Jumat, 08 Agustus 2008

Pemimpin oh pemimpin

Suatu keharusan kebijakan yang diambil oleh pemimpin itu merupakan kebijakan yang bijaksana, itu mutlak. Saya pikir bijaksana itu adalah suatu sifat atau perbuatan yang tidak akan menjadi beban, tidak akan ada yang dirugikan dan cenderung menguntungkan bagi rakyat, adil dan menjadikan suasana damai, hal mana yang telah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin terdahulu lebih-lebih pemimpin umat islam yakni Nabi besar Muhammad SAW, juga sahabat nabi Sayidina Umar ibnu Khattab, yang rela tidak mempunyai singgasana demi rakyatnya, bukan karena tidak adanya harta atau benda namun karena kecintaannya kepada umatnya.
Demikian juga raja-raja dikerajaan besar terdahulu seperti raja Mataram, Majapahit, Singosari, Demak, Blambangan dan masih banyak kerajaan yang dipimpin oleh raja yang bisa memberikan kebijakan yang bijaksana, dan juga para Senopati yang selalu menjadi tameng bagi para kawulo alit, sehingga rakyat tentram dan damai walaupun pada musim paceklik sekalipun.

Saya pikir para pembesar negri merah putih ini bisa dibilang 70 % muslim, namun apa yang bisa diteladani dari sifat-sifat pembesar Islam terdahulu. Sehingga tidak heran kalau orang non muslim memberikan kesimpulan bahwa muslim itu bisanya hanya ngebom, maling, nipu, anarkis dan perbuatan melawan hukum lainnya. Muslim tidak perlu marah atau panas telinga memang fakta menunjukkan demikian adanya. Langkah yang tepat adalah intropeksi diri dan untuk membenahi sifat dan perilaku yang menyimpang dari kaedah itu bukan dapat diakukan dalam waktu singkat seperti pembuatan teks proklamasi.

Tidak ada komentar: